Tambang Emas yang Terabaikan…
leave a comment »
“Hm.. kalau aku punya tambang emas sendiri, aku mau diam-diam aja Biar nggak ada orang yang tau, jadi nggak perlu rebutan. Mau aku habisin buat beli mainan segunung” fikir saya saat itu. Kedengaran boros dan tamak kan? hehe… namanya juga anak kecil.
Cita-cita pengen punya tambang emas sendiri, terbawa sampai ke alam bawah sadar saya. isi mimpi saya saat itu, selalu ada hubungannya saja dengan emas. Mimpi Pake baju emas, naik mobil emas, tinggal di istana emas, bahkan pake gigi emas, ups… jadi ingat dongeng Midas ya..
Sayangnya takdir membawa saya ke Fakultas Psikologi, bukan Fakultas Pertambangan. “Aduh… hilang permataku, hilang harapanku” begitu kali senandung yang pas buat saya. Namun dalam perjalanannya saya menemukan tambang emas yang jauh lebih besar dari pada tambang emas di Monterado (yang sekarang sudah sepi karena tanahnya rusak dan emasnya mulai habis) bahkan tambang emas ini bisa mewujudkan impian saya yang paling liar dari pada cuma ingin membeli mainan segunung. Tambang emas itu adalah menjadi seorang wirausaha.
Namun seperti menambang emas sungguhan, banyak orang yang berhenti menggali sebelum menemukan bongkahan emas. Mereka putus asa dan akhirnya kembali ke rumah. Kembali ke tempat tidur sambil bermimpi menambang emas lagi. Namanya mimpi setelah terbangun mereka kecewa dan gigit jari. Dalam bidang kewirausahaan pun demikian, banyak orang yang ingin sukses di bidang ini. Namun sangat sedikit sekali yang mau menjalani prosesnya. Sebab sudah rahasia umum, tidak ada jalan yang mudah menuju kesana.
Hal tersebut menciutkan nyali orang yang setengah-setengah dalam mengerjakannya. Akhirnya peluang besar pun diabaikan begitu saja. Mereka kembali ke dirinya yang lemah, berharap bantuan dari pemerintah dan lowongan kerja. Berita buruknya, saat lowongan yang diharapkan tidak datang, mereka lebih rela menganggur daripada berusaha menghidupi dirinya sendiri dengan berwirausaha.
Beberapa teman saya yang menganggur (pengangguran intelektual, karena mereka rata-rata lulusan perguruan tinggi) pernah saya tanya, mengapa mereka tidak coba berwirausaha saja, daripada menganggur.
“Wirausahakan bisa bikin kalian kaya” kata saya.
“Pengen sih, Bro.. tapi kayaknya nggak mungkin deh. Johan yang pintarnya ngalah-ngalahin einstein aja, sekarang masih menganggur. Jadi wajar dong kalau aku menganggur. Bisa keterima jadi pegawai kelas rendah aja sudah syukur. Memang sih.. berwirausaha bisa bikin kaya, tapi susah. Banyak yang gagal tuh. Mana butuh waktu yang lama lagi untuk mewujudkannya. Aku sih suka yang kayak Mie aja deh, instant. Mendingan nyantai-nyantai dulu, sambil tunggu ada peluang bagus” begitu katanya
Wah… jawaban yang menyedihkan, setidaknya bagi saya yang memang dari waktu kuliah sudah mulai belajar berwirausaha. Anda tahu apa pekerjaan teman saya sekarang di tahun 2009, dia tetap menjadi PENGANGGURAN. Bahkan kalau dia tidak segera menata rencana suksesnya (lihat Formula Sukses), saya yakin dia akan jadi “Dewa” di masa depan, “DEWA PENGANGGURAN!”. Saya berharap anda bukan orang seperti teman saya ini.
Tetapi kalau anda sama dengan teman saya atau sekedar mirip saja. Saran saya segera kembali ke jalan yang benar. Tata kembali Formula suskes anda. Temukan impian anda kembali. Lalu susun rencana untuk menggapainya. Bersikap positiflah terhadap apapun peluang dihadapan anda. Hargai diri anda, percayalah anda sebaik orang lain bahkan lebih. Selanjutnya anda bertindak menggarap peluang yang telah anda dapatkan demi mewujudkan impian yang ada dalam benak anda. Anda pasti sukses! Ingat Formula Sukses, “S=DA2” Success=Dream x Attitude x Action!
Sekarang anda mengerti, saat ada peluang di depan mata anda sebaiknya anda pertimbangkan, mungkin itu tambang emas yang anda cari selama ini. Jangan ciut, dalam mengerjakannya. Jangan berhenti sebelum anda menemukan apa yang anda cari. Semakin anda menghargai peluang, semakin sedikit tambang emas yang terabaikan. Semoga Indonesia bertambah maju. Go Entrepreneur, mari berwirausaha!.
Subhan, Mengolah Sampah Jadi Tambang Uang.
Jum'at, 05 Maret 2010 | 09:30 WIB
TEMPO Interaktif, Surabaya - Rumah sederhana di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu nyaris tak tampak. Lahan kosong di samping dan depan rumahnya dikelilingi tumpukan sampah plastik yang menggunung. Limbah plastik yang terdiri dari berbagai alat kebutuhan rumah tangga itu juga tampak berserakan di beberapa rumah sekitarnya. “Itu gunungan emas kami,” kata Muhammad Subhan, pemilik rumah yang bergelar eksportir biji plastik terbesar di Kediri ini kepada Tempo, Jumat (5/3). Rumah sederhana di Kelurahan Bandar Kidul, Kecamatan Mojoroto, Kota Kediri itu nyaris tak tampak. Lahan kosong di samping dan depan rumahnya dikelilingi tumpukan sampah plastik yang menggunung. Limbah plastik yang terdiri dari berbagai alat kebutuhan rumah tangga itu juga tampak berserakan di beberapa rumah sekitarnya.
Pria berusia 41 tahun ini mengataka, berkat bisnis sampah plastik ini, Subhan bisa menghidupi keluarga dan puluhan kepala rumah tangga yang bekerja sebagai pemulung di Kediri dan sekitarnya. Melalui mesin penghancur plastik yang didesain secara khusus, Subhan mampu menyulap botol air mineral, wadah kosmetik, peralatan dapur, dan barang lain lain yang berbahan dasar plastik menjadi biji plastik. Produk tersebut merupakan bahan utama pembuatan poliester untuk dicetak kembali menjadi bahan karpet, busa kasur, hingga busa rokok.
Sebelum tahun 2003 lalu, Subhan adalah wiraswasta yang menjajal banyak bidang usaha. Alumnus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Fakultas Kesehatan Masyarakat Malang ini pernah menggeluti budi daya jati mas sebelum akhirnya memilih menjadi “pemulung”. Keputusan tersebut diambil setelah melihat perkembangan usaha biji plastik di Jakarta.
Tentu saja Subhan tidak benar-benar mengorek tempat sampah seperti pemulung pada umumnya. Setiap hari dia hanya menerima kiriman sampah dari para pemulung untuk ditumpuk di lahan seluas 14 meter persegi di samping rumahnya. Setiap kilogram sampah plastik yang disetorkan mendapat imbalan Rp 1.000 – 1.500 dari Subhan.
Setelah dipisahkkan menurut warna dan kekeruhan bahannya, sampah plastik itu dibersihkan dari semua jenis noda. Pembersihan itu pun sangat sederhana menggunakan pisau dapur. Khusus tenaga pembersih ini Subhan merekrut ibu rumah tangga di kampungnya.
Selanjutnya plastik tersebut diolah dengan mesin pencacah hingga berubah menjadi potongan plastik kecil seukuran 5 mili meter. Mesin tersebut dipesan secara khusus kepada perakit hingga berfungsi seperti pencacah kopi dan kelapa. Hasil cacahan tersebut disaring beberapa kali dalam air sebelum dikeringkan dan dijual sebagai biji plastik. “Setiap bulan kami mengirim 30 ton ke Hongkong, China” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut Subhan harus berburu sampah hingga Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Nganjuk, hingga Ponorogo. Hingga kini sudah tak terhitung jumlah kepala yang dihidupi dari mata rantai usaha tersebut. Atas peran itu pula Subhan berhasil mengantarkan istrinya Sri Hartatik meraih penghargaan Pemuda Pelopor Jawa Timur 2009 di bidang Kewirausahaan.
Pria berusia 41 tahun ini mengataka, berkat bisnis sampah plastik ini, Subhan bisa menghidupi keluarga dan puluhan kepala rumah tangga yang bekerja sebagai pemulung di Kediri dan sekitarnya. Melalui mesin penghancur plastik yang didesain secara khusus, Subhan mampu menyulap botol air mineral, wadah kosmetik, peralatan dapur, dan barang lain lain yang berbahan dasar plastik menjadi biji plastik. Produk tersebut merupakan bahan utama pembuatan poliester untuk dicetak kembali menjadi bahan karpet, busa kasur, hingga busa rokok.
Sebelum tahun 2003 lalu, Subhan adalah wiraswasta yang menjajal banyak bidang usaha. Alumnus Institut Keguruan dan Ilmu Pendidikan (IKIP) Fakultas Kesehatan Masyarakat Malang ini pernah menggeluti budi daya jati mas sebelum akhirnya memilih menjadi “pemulung”. Keputusan tersebut diambil setelah melihat perkembangan usaha biji plastik di Jakarta.
Tentu saja Subhan tidak benar-benar mengorek tempat sampah seperti pemulung pada umumnya. Setiap hari dia hanya menerima kiriman sampah dari para pemulung untuk ditumpuk di lahan seluas 14 meter persegi di samping rumahnya. Setiap kilogram sampah plastik yang disetorkan mendapat imbalan Rp 1.000 – 1.500 dari Subhan.
Setelah dipisahkkan menurut warna dan kekeruhan bahannya, sampah plastik itu dibersihkan dari semua jenis noda. Pembersihan itu pun sangat sederhana menggunakan pisau dapur. Khusus tenaga pembersih ini Subhan merekrut ibu rumah tangga di kampungnya.
Selanjutnya plastik tersebut diolah dengan mesin pencacah hingga berubah menjadi potongan plastik kecil seukuran 5 mili meter. Mesin tersebut dipesan secara khusus kepada perakit hingga berfungsi seperti pencacah kopi dan kelapa. Hasil cacahan tersebut disaring beberapa kali dalam air sebelum dikeringkan dan dijual sebagai biji plastik. “Setiap bulan kami mengirim 30 ton ke Hongkong, China” katanya.
Untuk memenuhi kebutuhan tersebut Subhan harus berburu sampah hingga Tulungagung, Trenggalek, Blitar, Nganjuk, hingga Ponorogo. Hingga kini sudah tak terhitung jumlah kepala yang dihidupi dari mata rantai usaha tersebut. Atas peran itu pula Subhan berhasil mengantarkan istrinya Sri Hartatik meraih penghargaan Pemuda Pelopor Jawa Timur 2009 di bidang Kewirausahaan.
Eksportir ini juga mengaku siap menghadapi gempuran pasar bebas yang banyak menggulung usaha dalam negeri. Sebab hingga kini Subhan masih kewalahan memenuhi permintaan biji plastik dari beberapa negara selain Hongkong. “Kebutuhan biji plastik luar negeri setiap pekannya mencapai 300 ton dari Indonesia,” katanya.
Kondisi ini diuntungkan pula dengan belum banyaknya usaha serupa di negara lain di Asia. Sehingga Indonesia masih satu-satunya negara penghasil biji plastik terbesar untuk kebutuhan industri di China.
Satu-satunya kendala yang kerap dialami Subhan adalah masih sulitnya mencari kucuran permodalan dari bank pemerintah. Sehingga pemasukan yang mengalir, selalu tersedot oleh cicilan hutang bank swasta. Karena alasan itu pula Subhan masih mempertahankan rumahnya yang sederhana di dalam gang.
Kondisi ini diuntungkan pula dengan belum banyaknya usaha serupa di negara lain di Asia. Sehingga Indonesia masih satu-satunya negara penghasil biji plastik terbesar untuk kebutuhan industri di China.
Satu-satunya kendala yang kerap dialami Subhan adalah masih sulitnya mencari kucuran permodalan dari bank pemerintah. Sehingga pemasukan yang mengalir, selalu tersedot oleh cicilan hutang bank swasta. Karena alasan itu pula Subhan masih mempertahankan rumahnya yang sederhana di dalam gang.